SIKAP PAULUS DALAM FILEMON 1:8–22 DAN IMPLIKASINYA BAGI GEMBALA SIDANG DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK JEMAAT
DOI:
https://doi.org/10.64533/nahiruv1i1.31Keywords:
Sikap Paulus, Filemon, Gembala Sidang, Konflik JemaatAbstract
Gereja merupakan sebuah organisasi yang terdiri dari berbagai kepentingan dan kebutuhan orang banyak. Meskipun bergerak dalam urusan kerohanian, tidak menutup kemungkinan timbul konflik di dalamnya. Seringkali gembala sidang harus menyelesaikan konflik yang terjadi. Untuk itu diperlukan sebuah sikap yang benar dalam menyelesaikan konflik tersebut. Pentingnya artikel ini adalah untuk memberikan contoh sikap yang benar dalam menyelesaikan sebuah konflik dalam jemaat masa kini secara alkitabiah berdasarkan Filemon 1:8-22. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kualitatif dengan melakukan studi literatur dari berbagai jurnal, buku dan Alkitab untuk menemukan teladan penyelesaian konfliks berdasarkan teks Filemon tersebut. Penelitian ini mengungkapkan relevansi sikap Paulus dalam surat Filemon terhadap gembala sidang dalam menyelesaikan konflik jemaat masa kini. Pertama, seorang gembala sidang tidak boleh bersikap otoriter dalam menghadapi konflik jemaat. Kedua, gembala sidang harus mempunyai sikap menghargai akan hak-hak jemaat. Ketiga, gembala sidang wajib mempunyai kerendahan hati dalam menyelesaikan konflik dan keempat, seorang gembala sidang dituntut untuk memiliki rasa rela berkorban dalam pelayanan yang mereka emban.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Nahiru: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.








